Sunday, June 07, 2009

Tentang Aurad Muhammadiyah

On 5/27/09, Haldi Zusrijan Panjaitan wrote:
> Kalau pendapat saya pribadi mas, tidak ada yang mempermasalahkan seseorang
> itu mengaku bertemu dengan Rasulullah saw.. Itu adalah urusan pribadinya.
> Yang bermasalah adalah ketika orang tersebut mengaku membawa ajaran baru
> atau syariat baru dari Rasulullah melalui mimpi atau temu jaga langsung..
>
> Syariat Islam hanya diturunkan ketika Rasulullah saw masih hidup.. Itulah
> Al-Qur'an dan Sunnah..
>
> Yang namanya sunnah dan hadits itu adalah perkataan dan perbuatan Rasulullah
> ketika masih hidup.. bukan setelah beliau saw meninggal dunia..
>
> Jadi.. silakan kalau Anda merasa bertemu Rasulullah saw melalui mimpi atau
> bahkan klaim melalui jaga... Itu adalah hak anda, nikmat untuk anda dari
> Allah swt (insya Allah), dan rahmat untuk anda..
>
> Tapi jangan sampai dengan bermimpi bertemu Rasulullah saw itu Anda mengaku
> membawa sesuatu ajaran baru atau aliran baru seperti Aurad Muhammadiyah dan
> lain-lain.. Apabila sudah seperti ini, maka pengakuan ajaran baru Anda
> melalui mimpi bertemu Rasul ini tertolak :)
>
> Begitu mas adnan.. :)
>
> Wallahu a'lam

Alhamdulillah berkat email mas haldi, sampailah juga email ini kpd
Topik Aurad Muhammadiyah.

Kalau boleh saya tahu, apa yg mas haldi sdh ketahui ttg Aurad
Muhammadiyah ini ? Mudah2an respon mas haldi bisa memudahkan saya dlm
menerangkannya secara singkat,padat,tepat, dan tidak bertele2.

Topik ini cukup ajaib, sampai2 ketika AM ini diserang, Abuya sampai
mengeluarkan satu buku khusus tentang ini.

-adnan-


Pada 28 Mei 2009 14:17, Haldi Zusrijan Panjaitan
menulis:
> Saya belum mengetahui dengan detail apa itu Aurad Muhammadiyah mas Adnan..
>
OK. kalau begitu saya akan coba jelaskan. mudah2an menambah ilmu dan bermanfaat.

Gini, kata "awrad" adalah bentuk jamak dari "wirid". Wirid berasal
dari kata2 wirdun, dlm bhs arab yg artinya "berdatangan". Kata wirid
digunakan utk menyebut perbuatan "zikir yg dilakukan secara
istiqamah".

kata "Zikir" itu sendiri artinya "ingat". maksudnya ingat di dalam
hati. kalau seseorang itu berzikir, misalnya "subhanallah" 33x, tetapi
yg di ingat perkara lain, misalnya "bagaimana UAS besok" atau "gimana
ya cara nagihin piutang2 tsb", dan bukannya "maha suci allah", org
tersebut tidak sedang berzikir. Dia hanya melafazkan zikir. Perbuatan
semacam ini tidak ada artinya sebab zikir tidak masuk ke hati. padahal
dlm quran disebut "Ala bi zikrillahi tatmainul qulub", hanya dengan
mengingati Allah hati menjadi tenang.

Jadi kata2 "awrad" bermaksud "sekumpulan bacaan bacaan zikir".

Awrad muhammadiyah adalah sekumpulan bacaan zikir dari seseorang Wali
Besar yg bernama "Sayidi Syeikh Muhammad Bin Abdullah As Suhaimi".
Jadi Kata "Muhammdiyah" diambil dari nama beliau. Ini sekedar
kebiasaan dalam tariqat. Tariqat diberi nama sesuai dengan nama
pembawanya, atau nama org yg mendapatkan wirid tsb dari Rasulullah
S.A.W.

Beliau ini keturunan Rasulullah, lahir di sudagaran, wonosobo, pada 14
Jamadil Akhir 1259 Hijrah@12 Juli 1843 Masihi.

Syeikh as-Suhaimi sempat belajar di “Pondok Sulu Tiang” dan seterusnya
di “Pondok Termas” di Jawa, kemudian beliau berangkat ke Makkah
al-Mukarramah seorang diri utk menunaikan Haji dan juga utk
menyambungkan pelajarannya di sana.

Diantara `ilmu2 yg dipelajari oleh Syeikh Suhaimi selama berada di
Makkah ialah seperti ilmu Nahu, Ilmu Saraf, Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqih,
Ilmu Tafsir Quran, Ilmu Hadits, Ilmu Usul Fiqih, Ilmu Falak, Ilmu
Sejarah Islam dan Ilmu Tasawwuf.

Diantara guru2nya semasa berasa di Makkah ialah:

*Maulana As-Sayyid Ahmad Dahlan (mufti Makkah ketika itu)
*Maulana As-Sayyid Bakri Syata
*Maulana As-Sayyid `Abdullah Az-Zawawi
*Maulana Asy-Syeikh Nawawi Banten

Adapun tentang asal dari Awrad Muhammadiah itu ialah bahwa Syeikh
Suhaimi ,setelah belajar dan menjalankan amalan-amalan Tasawuf dan
amalan-amalan bathin dari ayat-ayat Quran beberapa lama maka
amalan-amalan itu telah menjadi semakin banyak, bahkan seluruh Quran
juga pernah ia wiridkan, padahal ayat-ayat itu mesti dibaca dengan
tetap pada tiap-tiap hari atau dlm tiap jangka waktu yang tertentu.
Karena itu Syeikh Suhaimi mulai merasa berat dan tidak cukup waktu
untuk mengamalkannya dengan sempurna, apatah lagi jika amalan-amalan
itu "diturunkan" atau 'di-ijazahkan' kepada murid-muridnya kelak. Lalu
iapun berdoa' dan memohon kepada Allah s.w.t. supaya ditunjukkan
cara-cara untuk meringkaskan amalan-amalan itu.

Tidak lama selepas itu,Syeikh Suhaimi mendapat "alamat" menyuruhnya
masuk kedalam Ka'bah setelah tengah malam yang tertentu. Apabila ia
masuk kedalam Ka'bah dimasa yang telah ditentukan itu tiba-tiba ia
telah berjumpa dengan roh Rasulullah s.a.w. sendiri (didalam keadaan
terjaga, bukan mimpi), dan Baginda Rasulullah s.a.w. telah mengajarkan
kepadanya bacaan-bacaan Aurad itu serta cara-cara mengamalkannya. Maka
Aurad itu menjadi intisari bagi amalan-amalannya yang banyak itu.

Pertanyaan : Sebentar2, Apakah Quran dan Sunnah yg ada Tidak Cukup
sehingga Rasulullah perlu datang lagi memberi ijazah wirid tsb ?

Jawaban : Justru Wirid itu sendiri terdiri dari ayat2 Al Quran dan
Shalawat2. Tidak ada yg baru sama sekali.

Pertanyaan berikutnya : Ok, memang itu ayat quran dan salawat, tetapi
kenapa perlu rasulullah datang menyusunkan ayat2 tsb dan shalawat tsb
utk kita ? kan kita bisa baca sendiri ketika buka2 qur'an ?

Jawaban : Ayat Al Quran ini banyak fungsinya. Diantaranya sebagai
OBAT. Dlm Quran disebut "Wa Nunazzilu minal qur'ani ma huwa SYIFA' U
wa rahmatul lil mukminin...", Dan Tidak kami Turunkan Quran ini
kecuali sebagai OBAT dan rahmat utk orang mukmin.

Pertanyan berikutnya : Obat utk apa ? terutama untuk mengobati
penyakit2 batin. Walaupun tidak dinafikan ada susunan ayat quran
tertentu yg dpt digunakan utk mengobati penyakit lahiriah, penyakit
batiniah (sombong, ego, pemarah, bakhil, penakut, bangga diri, gila
dunia dll) lebih utama utk di obati. Penyakit inilah yg meyebabkan
kerusakan masyarakat.

Penyakit Jiwa dan penyakit masyarakat di setiap zaman berbeda beda
kadar dan tarafnya. Maka utk mengobatinya, selain amalan2 yg asas
(rukun iman & rukun islam), perlu obat2 yg khusus dengan dosis yg
tepat. Disini Rasulullah S.A.W. datang sebagai seorang rasul yg
sangat bertanggung jawab terhadap ummatnya, memberikan resepnya,
berupa amalan2 yg jika "obatnya diminum" dan "terapi2nya di jalani",
insyaAllah penyakit2 itu akan sembuh.

Bahkan tidak hanya itu, zikir2 ini dapat memberikan kekuatan ruhaniah,
jika diamalkan dengan penuh penghayatan. Kekuatan rohaniah ini sangat
diperlukan oleh orang2 yg ingin membangunkan sistem hidup islam. Utk
menzahirkan islam dalam bentuk yg riil, perlu kekuatan ruh jiwa dan
sangat hebat, sehingga sanggup menempuh semua halangan dan rintangan
yg akan datang. Itulah fungsi berikutnya dari Wirid ini.

Wirid/zikir ini ada berbagai jenis :

1. Ada orang berzikir dia buat daripada yang dipilih-pilih sendiri.
Dia mampu baca Quran dan baca Hadist tentulah banyak bentuk zikir yang
dia jumpai, Bagi orang yang berminat ibadah dia kutip dan dia amalkan
mana yang dia rasa berkesan. Tetapi tidak tak ada sambungan silsilah
ke Rasulullah, kalau ibarat Hadist sanadnya putus. Cara ini untuk
beribadah boleh tapi berkatnya tak ada.

2. Ada satu bentuk zikir lagi, mungkin dia seorang guru dan pejuang.
Dia berfikir utk memperjuangkan Islam mesti ada kekuatan zikir, mesti
ada kekuatan jiwa, kemudian dia susun-susun dan diberikan ke muridnya.
Itu satu bentuk yang tak sempurna, Cuma dia lebih baik daripada yang
pertama sebab dia ada hubungannya dengan perjuangan, cita-cita
perjuangan. Hasil dari akalnya, dia kutip bagian2 Quran dan Hadist
yang berkesan di hatinya, dia beri kepada murid-muridnya. Misalnya
seperti Hassan Al Banna. Dia seorang pejuang, untuk perjuangannya, dia
perlu satu kekuatan jiwa dari zikir dan wirid, jadi dia ciptakan satu
sistem wirid yang dia bagikan kepada murid-muridnya dan diamalkan.
namanya Al Ma'surat.

Dia tak mendapat itu dari Rasulullah. Dia terputus, tak ada terhubung
dengan Rasul, tidak ada silsilah dari Rasulullah. Memang semua
ayat-ayat itu dari Rasulullah, tapi maksud silsilah disini ialah
diberi secara khusus. Kalau Rasulullah sampai datang secara khusus
memberikan suatu zikir kpd seseorang, artinya orang itu dan zikir itu
sangat penting dan istimewa.

3. Dia berwirid secara bertariqat. Tariqat itu bersilasilah, misalnya,
dari Rasulullah, kpd Sayidina.Umar kepada si fulan-si fulan, sampailah
kepada kita. Itulah tariqat.

Sampai sini, mestinya mas haldi sudah bisa menjawab pertanyaan tentang
"yakazah dgn rasulullah kok membawa syariat baru" tsb.

Coba mas haldi tanya kawan2 dari PKS, mesti ada diantara mrk yg
mengamalkan "al ma'surat" dari as syahid hassan al banna. Sampai hari
ini saya belum pernah dengar ada yg berkomentar bahwa hassan al banna
menambah2 syariat, atau membuat syariat baru. Padahal al matsurat
tersebut dia susun2 sendiri. Tidak pernah ada di hadist nabi mana pun
dlm bentuk yg seperti itu. Yg begitu tidak ada masalah.

Tetapi kenapa Awrad Muhammadiyah, yg isinya adalah :

1. 2 kalimat Syahadat + Menyebut Nama 4 Khulafaur Rasyidin & Imam
Mahdi sebagai zikrusshalihin (baca 10 x)
3. Ayat Laqadjaakum (At Taubah 128-129) (baca 10 x)
4. Ayat Taubat Nabi Yunus (La Ilaha Illa Anta Subhanaka Inni Kuntu
Minadzolimin) (baca 50x)
5. Surat Al Ikhlas (baca 50x)
6. Surat Al Isra 45, Surat Al Baqarah 171, Surat Yasin Ayat 9 (baca 10x)
7. Shalawat Nabi (baca 50x)
9. Surat Saba 10 - 11 (baca 10x)

Tiba tiba disebut syariat baru dan sesat ? sejak kapan mewiridkan ayat
al quran dianggap membuat syariat baru dan membuat orang jadi sesat ?
Apalagi ini disusun oleh Rasulullah S.A.W sendiri ..

Next question : Ok kalo gitu , sekarang apa hubungannya Sayidi Syeikh
Muhammad bin Abdullah As Suhaimi ini dengan Abuya Ashaari At Tamimi ?

Jawab : Abuya mendapatkan ijazah wirid ini dari pamannya, lebai
ibrahim, Beliau ini adalah murid dari Syeikh Suhaimi.

Pertanyaan : Terus, segala macam istilah tariqat ini, maksudnya apa ?
sejak kapan islam ada yg begini2 ini ? setahu saya islam ini ya
shalat, zakat, puasa, haji aja. kenapa istilah bahasa arab yg aneh2
ini tiba2 muncul ?

Jawab : Ceritanya Panjang. Untuk Itu perlu satu email khusus. tetapi
utk mudahnya begini :

Agar manusia berhasil menempuh hidup sesuai al quran dan sunnah,
seseorang harus mengetahui hukum2 Tuhan, atau syariat. syariat ini
adalah 5 saja (Wajib,Sunnat,mubah, makruh dan haram). kalau syariat
ini menyentuh bab keyakinan, dinamakan aqidah, kalau menyentuh bab
lahiriah dinamakan fiqih, kalau menyentuh bab akhlak dinamakan
tasawuf.

Syariat ini, kalau dia diamalkan dengan sungguh2, maka orang yg
menempuhnya dikatakan sedang ber tariqat atau "menempuh jalan". kalau
yg diamalkan ini benda2 wajib, maka tariqatnya disebut tariqat wajib.

Contohnya : Sholat. Sholat adalah tariqat wajib, dia mesti diamalkan
dengan sungguh sungguh.
Fiqihnya : berdiri,rukuk,sujud, membaca bacaan sholat
Aqidahnya : Yakin dengan Allah yg Melihat
Tasawufnya : Khusyuk, paham yg dibaca, penuh dgn perasaan tunduk pada Allah.
Ketiga2nya mesti ada.

Selain tariqat yg wajib, ada juga tariqat sunnat. Di sini, yg
diamalkan selain yg wajib, ditambah dengan amalan2 sunnat yg biasanya
berupa wirid2 dan shalawat. Jenisnya banyak, ada naqsabandiah, ada
syatariah, ada qadiriah dll. tarikat yg dianut oleh Abuya Ashaari
Attamimi dinamakan Tariqat Muhammadiyah.

next question : kenapa sih islam kok gini banget ? Apa ngga bisa ya
kalau kita ini biasa2 aja ? Nggak usah melakukan amalan aneh2 seperti
ini ?

jawaban : ini pilihan, Tidak ada paksaan dalam agama. Jalan ini
biasanya ditempuh oleh org2 yg memang ingin lebih mendalami dan
memperjuangkan islam sbg way of life. Kalau sudah merasa cukup dgn yg
selama ini dan merasa tdk ada yg salah dgn sistem ini ya silakan saja.
Tdk ada masalah.

mhn maaf lahir batin
-adnan-

Keajaiban Abuya

Pada 25 Mei 2009 18:07, Mohammad Andri Budiman <mandrib@gmail.com> menulis:
Assalamu'alaikum wr wb,

Untuk "menjadi" Nabi, Rasul, pemimpin, gembala, Messiah atau sekedar orang yang mempersiapkan kedatangan Al Mahdi, seseorang tentunya memiliki sesuatu yang membedakan dia dengan the rest of the society.

Katakanlah itu sebagai "mukjizat" -- atau bila kata tersebut dianggap "kurang agamis" maka bisa ditukar dengan, misalnya, "the ninth habit" (karena seventh and eighth habit sudah "diambil" Stephen Covey). Atau, kalau kepanjangan, bisa dicoba "miracle" -- tanpa konotasi balik-balik ke "mukjizat" lagi, apalagi "sihir".

Thus, konon "miracle" Ahmad Moshaddeq adalah dapat "revelation" setelah 40 hari "bermeditasi" di Gunung Bunder, Bogor. Lia Eden juga mengaku didatangi "Jibril", dan banyak pengikutnya melihat "langit berubah" setelah Lia melakukan "ritual tertentu". Namanya mengaku-aku tentu boleh-boleh saja, karena jin pun bisa mengaku sebagai "Jibril", "Mbah Anu Sakti" atau "Ki Anu Sakit"; mereka ghaib dan manusia tidak bisa membedakan antara ghaib-nya malaikat dan ghaib-nya jin.

Mengenai Sai Baba di India, ada foto yang menunjukkan dia bisa "mengeluarkan emas" dari mulutnya -- sesuatu yang bisa juga dilakukan beberapa pemain debus yang out-of-nowhere bisa mengeluarkan paku dari mulutnya setelah memakan, misalnya, mentimun.

Ada pula yang berkata bahwa Sai Baba bisa "menghidupkan orang mati" -- dan hal yang sama pun bisa juga dilakukan oleh para dukun Voodoo di Afrika yang bisa "membuat mayat berjalan" yang dikenal sebagai zombie. Entah ruh siapa yang masuk wallahu ta'ala a'lam karena yang benda mati pun bila dipuja-puja bisa saja nanti ada jin yang masuk ke dalamnya.

Nabi Muhammad saw mukjizatnya banyak sekali seperti dengan izin Allah bisa membelah bulan ketika ditantang untuk membuktikan beliau adalah benar Rasul Allah oleh kaum yang kufur. Itu yang mukjizat kecil saja, sampai mukjizat terbesar yakni al Qur'anul Karim.

Untuk mempersingkat waktu, apa sebenarnya miracle Abuya sehingga kita bisa berucap sami'na wa atha'na (kami dengar dan kami taat) kepadanya? Tentu saja, "kelesan" (dari asal kata "ngeles") dari para pengikut beliau tanpa adanya bukti tidak patut diterima secara qalbu yang sehat.

Afwan jiddan bila ada kata yang salah.

Wallahu a'lam.

Wassalamu'alaikum wr wb,

Andri

----------------------------------------------------------


askum mas mandrib. Mudah2an mas mandrib selalu dilindungi Allah S.W.T

Istilah mukjizat, sebenarnya hanya digunakan utk para nabi dan rasul. Selain nabi dan rasul, istilahnya adalah "karamah" atau kemuliaan. kebanyakan orang terpesona oleh karamah lahiriah. misalnya bisa berjalan diatas air, bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain secara instant, mengeluarkan uang ribuan ringgit dari kantong baju yg
sebelumnya kita tahu tdk ada isinya dll.

Tetapi benda2 itu sebenarnya kecil. Tidak perlu wali Allah, tukang sihir atau tukang sulap pun bisa melakukan hal yg terlihat sama. Hal hal seperti itu mungkin istimewa di mata kita para penggemar keajaiban lahiriah, tetapi itu bukan keutamaan yg utama.

Karamah yg tertinggi adalah istiqamah. Istiqomah lahiriah dan istiqomah batiniah. Ada sebuah kata2 bijak dari kitab2 ulama terdahulu "Janganlah kamu meminta menjadi wali, tetapi mintalah istiqamah, sebab istiqamah adalah ciri kewalian

Kalau seseorang itu istiqomah dlm, misalnya, melakukan sholat tahajjud 40 th berturut turut tanpa putus, atau misalnya, istiqomah bersedekah setiap hari selama 40th tanpa putus, mestinya ada sesuatu yg istimewa pada diri orang itu.

Seorang wali Allah adalah orang yg istiqomah secara batinnya. Hatinya secara istiqomah setiap saat setiap waktu selama 24 jam, selalu terpesona dengan Allah, kagum dengan Allah, Takut dengan Allah, malu dengan Allah, merasa sangat berhutang budi dengan Allah. Melihat langit, ingat Allah, melihat laut, ingat Allah, melihat batu, kayu, jendela, naik mobil, melihat makanan yg dimakannya, ingat Allah. bahkan ketika melihat Bayi yang baru lahir dan menangis beliau berkata kpd kami "Tahukah kamu, ada  jutaan bayi yang pada saat ini semuanya sedang menangis bersama sama dan semua itu berada dalam pengendalian Allah, dan sudah dalam perencanaan Allah sejak azali". Abuya selalu menemukan dan melihat kuasa Allah setiap saat. Allah sangat menguasai hatinya.

Buat saya, inilah ciri2 ulil albab, "Alladzina yadzkurunallaha qiyamaw wa qu udaw wa ala junubihim wayatafaqqaruna fi khalqissamawati wal ard..." Inilah ciri ciri orang Allah.

Buat saya, inilah ciri2 orang mukmin "innamal mukminunal ladzina iza dzukirallahu wajilat qulubuhum".. Sesungguhnya hanya orang mukmin yg jika teringat dengan Allah, maka bergetar qalbu nya.   Betul-betul berbeda  dengan kita yang mendengar kata "Allah" dengan mendengar kata "batu", "kayu", "pagar", hati kita rasanya sama saja. Dari ciri2 orang mukmin di dalam quran ini pun, kita mestinya sudah mengakui bahwa kita ini, mukmin pun bukan....

Karena sangat terpesona dengan Allah itulah maka Abuya sanggup mengorbankan hartanya dan dirinya untuk Tuhannya itu. Beliau tidak punya rumah pribadi, tidak punya mobil pribadi, semuanya milik jemaah. Abuya bahkan tidak punya privacy. Kamar tidur beliau pun, kalau kita kekurangan ruang kelas utk mengajar anak anak, kamar itu di pagi dan siang harinya kita gunakan utk ruang kelas (terpaksa dilakukan, sampai hari ini pemerintah malaysia belum mengizinkan kita membuka sekolah sendiri, sedangkan Abuya punya sistem pendidikan sendiri).

Abuya selalu bermusafir, dari satu rumah tamu milik jemaah ke rumah tamu milik jemaah yg lain. Abuya tidak pernah menetap di satu tempat lebih dari 40 hari. Bahkan dalam keadaan sakitnya sekarang (beliau terkena multi stroke) ruh beliau cukup kuat utk menyeret fisiknya yg sakit itu berjalan dari satu tempat ke tempat lain utk berdakwah. Bahkan seluruh kru yg mengikuti perjalanan beliau ini hampir2 tidak sanggup karena kelelahan. Buat Abuya, Islam mesti dibangunkan dengan biaya berapapun, bahkan kalau perlu kesehatan dan nyawa beliau pun beliau korbankan.

Abuya sangat pemurah, beliau istiqamah bersedekah setiap hari sejak puluhan tahun lalu. Rizki dari Tuhan mencurah curah tetapi semuanya beliau korbankan habis tak bersisa utk jamaahnya, utk islam. Tetapi rizki itu datang lagi dan datang lagi. Dari pengorbanan inilah terbangun project project Global ikhwan di seluruh dunia.

Abuya sangat sabar dan berkasih sayang. Bahkan terhadap orang2 yg menyiksanya di dalam penjara Internal Security Act di malaysia. Banyak dari mereka sekarang ini menjadi pengikut Abuya karena kagum dengan akhlak beliau. Satu kisah di dalam penjara ISA, beliau pernah tidak diberi makan selama 4 hari, dengan harapan supaya beliau kelaparan, dan ke dalam sel penjara di masukkan seekor kucing yg kelaparan, kemudian makanan di masukkan. Mereka berniat menghinakan Abuya, berharap melihat Abuya berebut makanan dengan kucing. Tetapi yg terjadi adalah sebaliknya. Abuya lebih kasihan melihat kucing yg kelaparan ketimbang kasihan dengan dirinya sendiri, dan mereka akhirnya terpaksa menghadapi kenyataan ini, melihat Abuya dengan penuh rasa kasih sayang memberi makan pada kucing tersebut. Hal ini hanya mampu dilakukan oleh orang orang Allah saja. Manusia biasa tidak akan sanggup berakhlak seperti ini.

Pernah seorang kawan saya diajak berjalan oleh Abuya ke pantai, disana Abuya membeli ikan, Abuya membeli ikan dari sekaligus dari 3 toko yang bersebelahan. Ketika kawan saya bertanya, kenapa Abuya berbuat begitu, kan kita tidak perlu ikan sebanyak itu, Abuya menjawab, "Saya ingin menjaga hati pemilik kedai yang lain, coba bayangkan bagaimana perasaan mereka kalau Abuya membeli ikan hanya di satu toko dan tidak membeli dari toko di sebelahnya..."

Bayangkan, pemilik toko yang dia tidak kenal pun dia jaga perasaannya, apalagi terhadap orang yg dia kenal.

Ikan itu pun sebagian besarnya disedekahkan kepada para nelayan. Kata Abuya "Nelayan ini jarang memakan ikan yang bagus walaupun mereka yg menangkapnya, ikan yang bagus biasanya mrk jual, dan mereka memakan ikan yg jelek."..

Akhlak Abuya lah yg menarik simpati orang terhadap diri dan perjuangannya. Termasuklah sifat pemurahnya. Sampai2 kawan saya pernah mengalami suatu kondisi dimana pemerintah malaysia mengirimkan intelijen utk mengikuti Abuya dan mengambil apa2 yg sudah Abuya sedekahkan dari orang tsb, utk akhirnya memanggil Abuya ke kantornya dan di waktu itu, menerapkan Aturan "Larangan Bersedekah" :-)

Baru kami sadar, rupanya, Akhlak yang baik adalah senjata yg paling berbahaya

Sementara hanya inilah sanggup saya ketik. Kalau mas mandrib berminat dengan kisah2 keajaiban sejenis ini, bisa membaca buku "Abuya Pemimpin Paling Ajaib di zamannya". Ada di URL berikut :


Mudah2an bermanfaat. Mohon maaf lahir batin

-adnan-

NB : beberapa buku Abuya sudah di web kan. silakan cek di sini

Cara Menentukan Pemimpin Dalam Islam

Pada 19 Mei 2009 02:37, Mohammad Andri Budiman menulis:
> Ustadz Adnan, apa yang antum bilang itu betul. Hanya, saya masih mencari-cari dari dulu, 
> bagaimana *cara* kita menentukan pemimpin yang kita akan berbai'at kepadanya. Kita tahu 
> bahwa bai'at *bukan* cara memilih pemimpin, namun bersumpah setia kepada pemimpin
> Jadi, sebelum berbai'at, tentunya harus ada pemimpinnya dulu bukan? :) Apakah antum
> bersedia menjelaskan cara menentukan (bila kata "memilih" dianggap tidak Islami) pemimpin
> dalam Islam?
>
> Wassalamu'alaikum wr wb,
> Andri

Askum.wr.wb

Mhn maaf baru bisa membalas sekarang. kmrn2 agak sibuk. Mudah2an Tuhan mudahkan saya untuk menulis tentang cara menentukan pemimpin dalam islam.

ada dua keyword yg penting di sini yaitu "pemimpin" dan "islam"

Pertama, mengenai pemimpin. Seorang pemimpin didalam islam, dia dilantik oleh  Tuhan. Ketika di zaman ada nabi dan rasul., merekalah pemimpin tersebut. Tuhan menunjuk mereka melalui wahyu yg diturunkan kepada mereka dan mereka menyampaikan pada ummatnya bahwa mereka adalah utusan Tuhan, dan perjuangan pun dimulai utk menegakkan sistem Tuhan
utk masa itu.

Nabi berbeda dengan Rasul. Rasul wajib menyampaikan risalahnya kpd kaumnya. Nabi tidak demikian, tetapi sekiranya ada yang mau ikut mereka, nabi itu pun menerima pengikut tersebut dan mendidiknya. Jumlah Rasul lebih sedikit dari pada jumlah Nabi. Rasul jumlahnya menurut beberapa kitab ada 313 orang , sedangkan nabi 124.000 banyaknya.

Di zaman ketika Nabi Muhammad Sudah Wafat, Pemimpin tersebut bukan lagi nabi atau rasul. Tetapi watak perjuangannya terbagi menjadi dua, ada yang mirip watak nabi, ada yang mirip watak rasul. Mereka inilah yang disebut "Ulama Pewaris Nabi".

Ketika zamannya adalah zaman berjuang (menurut hadist, di awal kurun hijriah , sekitar 30-40 th pertama dari 100 tahun tiap kurun hijriah), Muncul Pemimpin Berwatak Rasul yang disebut Mujaddid.

Ketika di tengah atau di akhir kurun hijriah, muncullah pemimpin berwatak nabi yg di sebut wali kutub atau ghauts.

Pemimpin2 yang tergolong mujaddid adalah : Sayidina Umar Bin Abdul Aziz, Imam Abu Hasan Ashaari, Imam Sayuti, Imam Ghazali, imam sayuti dll. Mereka berjuang memperbaiki kerusakan agama di zamannya.

Ketika di zaman Umar bin abdul aziz, sisi islam yang rusak adalah sisi pemerintahan islam, maka beliau berjuang memperbaiki segi pemerintahan islam sehingga jadilah kekhalifahan beliau kekhalifahan yg sangat di kagumi sampai hari ini.

ketika zaman imam abu hasan ashaari, segi aqidah islam di serang oleh paham muktazilah, beliau berjuang mempertahankan aqidah ahlussunnah wal jamaah dengan mengeluarkan kaidah sifat 20 dan membersihkan paham muktazilah dari ummat islam.

ketika zaman imam syafii, terjadi permasalahan dalam menentukan hukum2 islam, terjadi perbedaan diantara mahzab imam malik yang semata-mata menggunakan hadist , dgn imam hanafi yang kuat menggunakan logika. imam syafii mengeluarkan kaedah yang sampai sekarang masih digunakan, yaitu usul fiqh.

Begitulah seterusnya permasalahan atau segi2 kerusakan dalam pengamalan ajaran islam setiap waktu diperbaiki oleh Tuhan dengan mengirimkan mujaddid tiap seratus tahun sekali. Dan di akhir zaman ketika pengamalan islam di semua segi kehidupan sudah rusak, maka mujaddid sekaligus khalifah terakhir yang akan dikeluarkan oleh Tuhan untuk membenahi semua kerusakan adalah Imam Mahdi.

Itulah peran mujaddid, Ulama berwatak rasul. Sedangkan Gauts, atau Kutub, adalah Ulama berwatak nabi yang turun di tengah atau di akhir kurun hijriah, biasanya beliau2 ini mengajak ummat untuk ber-uzlah dan ber-ibadah saja. Sebab zamannya bukan zaman berjuang. Tuhan sudah tentukan demikian, mrk pun Taat. mrk mengajak pengikutnya hanya untuk
mengasingkan diri (ber-uzlah) dan memperbaiki ibadah2 saja. Mereka ini misalnya, Syeikh abdul qadir jailani , syeikh abu hasan syazili, syeikh ahmad rifai dll syeikh tarikat pada umumnya

Itu dari segi peranannya. Sedangnya dari segi cara Tuhan menunjuk mereka, caranya sama. Rasulullah akan datang kepada mereka, baik dengan jalan mimpi, maupun secara yakazah (berjumpa dalam keadaan sadar dengan ruh rasulullah), kemudian rasulullah menyatakan dan
melantik beliau sebagai pemimpin.

Sebagai kaedah verifikasinya, Ruh Rasulullah Tidak hanya datang ke orang ini. Ruh Rasulullah akan menemui wali wali lain untuk memberikan kabar yang sama, sehingga masyarakat bisa melihat , dari berbagai belahan bumi, orang2 yang sebelumnya tidak pernah dijumpai dan
dikenali oleh yang dilantik tersebut, datang membawa berita bahwa "Saya berjumpa rasullah pada tanggal sekian2 dan rasulullah menyebut bahwa engkau adalah mujaddid, dan saya diminta oleh Rasulullah berbaiat kepada engkau".

Kaedah verifikasi ini mesti ada. Ini adalah cara pelantikannya, Langsung dilantik oleh Rasulullah sebagai wakil dari Tuhan.

Jadi kalau mau mencari pemimpin untuk di baiat, coba cek apakah pemimpin tersebut pernah (atau malah sering) berjumpa Rasulullah dan apakah ada orang lain dari belahan dunia lain yg tidak dikenal tiba2 datang membawa berita yang sama. ini kaedah yang paling simpel

Sebagai contoh, Saya bawakan kisah pemimpin yang sudah di tunjuk oleh hadist utk menaklukkan konstantinopel, namanya Sultan Muhammad Al Fateh. Ketika dia baru lahir, datang seseorang dari bukhara, uzbekistan, yaitu syeikh syamsuddin al wali mendatangi ayahnya (raja osman ghazi , CMIIW) yang waktu itu sedang berniat menyerbu pusat kerajaan romawi timur tersebut sambil berkata, "bukan engkau yang akan menaklukkan konstantinopel, tetapi bayi yang ada dalam buaian ini".

Bayi itu pun diambil untuk dididik oleh Syeikh tersebut dan pada umur 21th, apa yang dikatakannya menjadi kenyataan.

Syeikh syamsuddin al wali ini di utus oleh gurunya di bukhara dan gurunya ini mendapat pesan dari Rasulullah untuk mengutus muridnya ke turki untuk mendidik sang calon pemimpin.

ini kaedahnya. Ada juga kaedah lain utk menilai apakah seorang itu betul2 pemimpin kebenaran atau bukan, cuman agak panjang, jadi mudah-mudahan lain kali sempat di tuliskan.

mohon maaf lahir batin

-adnan-

Mengapa Politik Demokrasi Tidak Dapat Digunakan Untuk Memperjuangkan Islam

> On 5/18/09, budhi hamdani wrote:
>> kayaknya pada benci bener sama pks, mengapa ya?
>> emng apa yang sudah pks lakukan buat temen2 sampe segituhnya?
>> atau apa yang ditakutkan temen2 dari pe ka es?
>>
>> Budhi Hamdani,
>
> ------Original Message------
From: adnan basalamah
Sender: itb-bounces@itb.ac.id
To: ITB
Subject: Re: [Itb] poll: benci PKS, tel mi way?
Sent: May 18, 2009 11:22 PM

Sebenarnya bukan salah PKS. Semua orang yang konsisten memperjuangkan sesuatu melalui sistem demokrasi, apakah dia islam, kristen, atau apapun, cepat atau lambat akan mengalami ini.

Dalam sistem demokrasi ini, kalau kita mau menjaga konsistensi kita dalam menjalankan agama, kita akan terbentur pada perolehan suara yang tidak naik-naik. Sebab pada kenyataannya,orang sanggup serius dgn Tuhan memang jumlahnya sedikit,dan mendidik orang itu tidak mudah serta perlu waktu yang lama.

Akhirnya mulailah nafsu berfikir menghalalkan ini dan itu, mengeluarkan jargon2 seperti "partai terbuka", "inklusif" dan lain lain , untuk merekrut lebih banyak orang, tidak peduli backgroundnya, supaya perolehan suara meningkat. Tetapi akhirnya bukan kemuliaan yang didapat, malah kehinaan.

Dikira kalau sudah dapat suara banyak,terus bisa melakukan sesuatu perubahan. Tetapi yg terjadi justru sebaliknya, malah diri kita yg semakin menjauh dari nilai-nilai islam. Ini fakta dan terjadi di semua partai yang berbasis islam.

Kita lupa bahwa Kebenaran bukan datang dari suara terbanyak. Kebenaran hanya datang dari Tuhan.

Padahal, kalau suatu kelompok itu sudah serius menjalankan SEMUA ajaran Tuhan, biar jumlahnya sedikit pun akan Tuhan menangkan. "Betapa banyak golongan yg kecil dapat mengalahkan golongan yg besar dgn izin Allah..." (QS 2:248)

 -adnan-


Gejala Gejala Ke Arah Islam

> Dari: M. Salman Hudaya <salman_hudaya@yahoo.com>
> Topik: [Itb] Film "Perempuan Berkalung Sorban" dianggap menyesatkan
> Kepada: itb@itb.ac.id
> Tanggal: Senin, 2 Februari, 2009, 8:44 AM

http://ng.republika.co.id/koran/0/29016/Film_Perempuan_Berkalung_Sorban_Dianggap_Menyesatkan

"Hanung Bramantyo membantah adanya dialog haramnya perempuan keluar rumah yang didasarkan pada Alquran dan Hadits. "Tak ada dialog seperti itu, itu hanya pendapat sang Kiai yang notabene pemilik pesantren bukan berdasarkan Alquran dan Hadits," kilahnya.

Berhubung saya tidak minat nonton film ini, jadi pendapat hanung bramantyo untuk sementara saya percaya terlebih dahulu.

-----

tetapi tetapi terlepas dari sesat tidak nya film tersebut, segala sesuatu yg dilabeli islam sekarang ini mudah menarik minat masyarakat, sehingga menguntungkan. Buktinya, film seperti ini bisa dibuat, berarti ada yg mau memodali. Biasanya orang mau memodali sesuatu project kalau untungnya jelas.

Ini perubahan yg betul2 180 derajat, kalau dibandingkan dengan kondisi indonesia dan dunia pada umumnya tahun 60an,70an,80an.

Tahun 60an misalnya, DN Aidit, ketua CC PKI pernah berpidato dihadapan orang2 CGMI (Consentrat Gerakan Mahasiswa Indonesia), onderbow PKI "kalau CGMI tidak berhasil membubarkan HMI (himpunan mahasiswa islam), lebih baik semuanya pakai sarung saja".

Waktu itu sarung berhasil diidentikkan dengan kemunduran, keterbelakangan, kekolotan, dll label negatif. Sehingga orang yang memakai sarung dijadikan bahan ejekan dan cemoohan. Tetapi pada hari ini, industri sarung adalah tergolong industri besar. 

Tahun 60an sd 70. Hampir tidak ada orang yg memakai jilbab. Kebanyakan kaum perempuan islam tradisional hanya memakai kerudung model selendang yg tidak sepenuhnya menutup aurat. termasuklah para istri kiai, istri mufti, bahkan istri menteri agama. Tidak mudah membedakan mana yg istri menteri agama dan mana yang bukan sebab pakaiannya sama saja. yaitu Model ibu2 Dharma Wanita. 

Tetapi gerakan dakwah di awal 70an, 80an merubah segalanya. Orang ITB pertama memakai jilbab tahun 1978. Para orang tua yg dasarnya berpendidikan sekuler merasa panik melihat anak2nya tiba2 memakai jilbab. Sebab jilbab dianggap ekstrim, tidak bhineka tunggal ika, budaya arab, dan anti pancasila. Di tahun2 80 s.d 90 an banyak siswi2 SMA yg berjilbab dikeluarkan dari sekolah. Saya bahkan sempat bertemu orang yg pertama kali dikeluarkan dari sekolah di republik ini karena memakai jilbab. 

Seorang ulama terkenal pro pemerintah waktu itu bahkan sempat berbincang padanya dan berkata begini : "kalau kamu takut melepas jilbabmu di sekolah ini sebab takut masuk neraka, biar nerakamu itu saya yg tanggung.."... 
(memangnya neraka bisa di sub-kontrak kan ? )

Masalah ini selesai tahun 1991 ketika akhirnya pak harto mulai berpihak kepada islam, naik haji, ikut mendirikan ICMI serta meninggalkan CSIS dan gengnya.

Dan pada hari ini, kalau anda naik ke pasar tanah abang blok A lantai 5 misalnya, anda akan melihat satu industri besar, busana muslim, dalam skala yg tidak pernah terbayang pada tahun 1980an. 

artinya apa ? 

Artinya agama islam ini kalau di ikuti dengan benar, suatu saat dia akan jadi satu kekuatan ekonomi yg tersendiri. 

Kita lihat yg lain, Film misalnya..

Pada Tahun 1970an, kalau kita lihat film indonesia, misalnya yang biasanya di bintangi oleh sophan sopiaan dan widyawati, Kalau dalam film itu ada adegan perkawinan, lokasinya pasti di dalam gereja. Silakan cek kalau tidak percaya.

Tetapi pada hari ini, walaupun bintang sinetronnya bukan beragama islam, adegan perkawinannya pasti di depan penghulu. Apa artinya ini ?

Artinya, walaupun pemilik rumah produksinya adalah orang india, tetap saja yang laku di jual adalah islam.

Sama kasusnya dengan musik, walaupun kasus yg dialami personil band ungu seperti yang kita lihat di berbagai infotainment, dan setahu saya personil band gigi tidak semuanya islam, mereka hidup dengan menumpang gelombang kebangkitan islam.

Kita bisa juga melihat pada kasus yg lain, kasus industri herba misalnya. Walaupun dibandingkan dengan industri farmasi yg konvensional ukurannya masih kecil, dan sifatnya dalam kacamata medis dianggap obat experimental, sebab masih kurang uji klinis yg sesuai standar kapitalisme industri farmasi, masa depannya cukup cerah. Kenapa, sebab herba ini ditempeli dan didasarkan pada hadis2 nabi. orang yang ada keyakinan islam, jika disuruh memilih apakah mereka mau berobat menurut cara profesor dengan tujuh titel dibelakang namanya, dengan berobat menurut cara nabi, mereka akan ikut nabi. profesor itu tidak akan menang. Sebab kalau dia menafikan cara pengobatan ini, otomatis dia menentang hadist nabi.  

Apa artinya semua ini ?

Artinya, ada orang, ada kelompok, ada golongan, yg selama 4 dasawarsa ini telah berhasil memarketingkan islam,mendakwahkan cara hidup islam. Hingga sekarang ini, setidaknya dari segi label dan penampilannya, islam sudah bisa diterima. 

Tentu saja penampilan tanpa isi tidak akan ada artinya, Makin lama minat orang pada islam akhirnya akan sampai pada masalah inti patinya, pada perbaikan akhlak dan perilaku manusia serta manfaat islamnya seseorang bagi masyarakat, bangsa, negaranya. Orang akan mencari ini. 

Dan ketika ada segolongan orang, yg memenuhi ciri2 ini, yang mereka  berakhlak mulia dan bermanfaat bagi semua orang, insyaAllah bukan hanya pakaian, lagu, musik, yg berubah tetapi negara ini akan berubah secara aman dan damai menjadi negara islam.

-=adnan=-

Saturday, February 23, 2008

Tauhid Antibiotic

Assalamu Alaikum Wr.Wb

Tanpa sengaja, kemarin saya memperhatikan percakapan seorang pasien dengan dokter. Pasien datang mengeluhkan penyakitnya, flu dan radang tenggorokan. Sebuah penyakit yang umum di era hujan tak henti henti seperti hari hari ini.

"saya sudah biasa kok kena penyakit kayak begini dok, ini mesti pakai antibiotik, kalau tidak pakai antibiotik tidak akan sembuh.."

Ini sebenarnya kata kata biasa yang muncul dari seorang pasien. Tetapi entah kenapa pada saat itu saya merasa kasihan pada orang ini. Antibiotik mungkin akan menyembuhkan penyakitnya, tetapi bagaimana dengan Tauhid dia ?

Bukankah yang menyembuhkan penyakit itu Tuhan ?

Bukankah Tuhan mampu menyembuhkan penyakit tanpa antibiotik ?

Dan bukankah Tuhan juga mampu membuat suatu peyakit yang tidak dapat di sembuhkan oleh antibiotik ?

Dimana sebenarnya Tauhid orang itu ketika mengucapkan kata kata tersebut ?

Kemudian bagaimana nasib iman sekian juta orang yang terjebak dalam suatu sistem pengobatan yang sangat berusaha menyelamatkan fisik seseorang tetapi merusakkan tauhidnya tanpa sadar ?

Walaupun yang mempunyai klinik dan rumah sakitnya adalah organisasi islam, apakah mereka menyadari hal ini ?

Dan bukankah sebenarnya seluruh penjajahan kapitalisme global dalam bidang obat obatan sebetulnya hanya bisa bekerja karena kita percaya bahwa Pil Itulah, Serum Itulah, Vaksin Itulah, yang menyembuhkan penyakit dan menyelamatkan kita dari kematian, walhal sebenarnya Allahlah yang menghidupkan dan mematikan ?

Alangkah baiknya kalau pasien ini di obati oleh dokter dokter yang bertauhid, yang ketika mengobati pasiennya, mereka berkata begini :

"Ibu, penyakit yang ibu derita ini datang dari Tuhan. Pasti Tuhan punya maksud tersendiri kenapa ibu ditimpa sakit. "

"Mungkin Tuhan mau menginsyafkan ibu, supaya ibu jadi lebih ingat dengan Tuhan dan banyak bertaubat.."

"Mungkin Tuhan mau meningkatkan derajat ibu menjadi orang yang sabar.."

"Nah .. ibu saya beri obat, tetapi ingat, obat ini hanya syariat. Kita sebagai manusia wajib berikhtiar, tetapi yang menyembuhkan adalah Allah, bukan obat"

Dengan demikian, bukan hanya fisiknya yang selamat dari sakit, tetapi tauhidnya pun selamat dari kemusyrikan.

QS 26:80 "dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, "

-=adnan=-

Thursday, April 07, 2005


Dome Of Rock Posted by Hello

Sunday, September 19, 2004

Kecantikanmu Itulah yang Merusakkanmu

Dengan kecantikan engkau ujub (bangga diri), padahal ujub adalah dosa batin
Dengan kecantikan engkau, engkau megah, itu juga dosa hati yang payah dikesan
Lebih-lebih lagi kecantikan engkau, engkau peragakan dengan menampakkan aurat
Menjadi bencana kepada semua.....

Lebih-lebih lagi kecantikan engkau, engkau komersialkan
Engkau gunakan sebagai peluang mencari harta dan kekayaan
Malu sudah tercabut dari perasaan engkau

Malu adalah kecantikan batin, sifat yang dipuji oleh Tuhan engkau
Karena kecantikan, engkau korbankan sifat malu
Tidak malu adalah satu dosa, yang banyak orang tidak berpikir bahwa itu adalah dosa
Maka dengan kecantikan engkau, engkau rusak dan merusakkan orang

Dengan hasil itulah engkau makan, bahkan memberi keluargamu makan
Engkau memakan benda yang haram, yang sudah tidak lagi terasa haram
Menjadi kotorlah darah daging engkau

Maka hati engkau juga ditempa dengan benda yang haram
Maka hati yang menjadi wadah sudah kotor, bernajis maknawi dan ruhani

Lalu bagaimanalah Tuhan hendak memasukkan hidayah di dalam hati engkau ?
Hidayah adalah barang yang mahal
Tuhan tidak akan meletakkan barang yang mahal itu di dalam wadah yang kotor
Kalau begitu, bilakah engkau hendak mendapat hidayah dari Tuhan?

Tidak ada hidayah, artinya hidup di dalam kegelapan secara ruhaniah
Sekalipun di luarnya engkau cerah dan mewah

Cerah di dalam kegelapan hati
Mewah di dalam kemiskinan jiwa
Tertipu engkau di dalam kehidupan
Nafsu menipu engkau, dunia mempesona engkau, kehidupan memperdaya engkau

12.7.2004
Menjelang Maghrib

A.S.Z

Friday, September 17, 2004

Merendah Hati

Selalunya orang yang pandai lagi cerdik, pintar pula, dalam bercakap susah merendah hati
Kalau bercakap dengan orang, susah hendak mengalah
Pantang teruji, lebih-lebih lagi kalau ditentang, egonya datang dan tampak nyata
Susah hendak menerima kebenaran dari orang
Bercakap berpanjang-panjangan, bertegang urat tidak sudah sudah
berdebat tidak selesai selesai, tidak ada keputusan
Orang yang begini susah hendak kekal berkawan
Kawan selalu saja pecah hati, tersinggung perasaan
Orang ini kasihan, karena hendak mempertahankan ego, kehilangan kawan
Ingin berkawan, suka berkawan tapi kawan tidak tahan
Akhirnya banyak kenalan, tapi sendirian, kawan tidak berkekalan
Begitulah orang yang suka bangga diri
Ego sayang hendak dibuang, padahal ia merugikan diri
Bijak, pandai tapi kehilangan kawan
Banyak kenalan tapi sekadar kenalan, kasih sayang hilang
Sungguh sayang, diri terasa pandai tapi tidak ada orang yang hendak ikut
Karena sikapnya kasih sayang renggang, kepercayaan orang hilang
Begitulah nasib orang yang sombong
Pandai, bijak tapi orang tidak hendak
Perangilah ego, ia sangat merugikan
Sayang sekali kalau kita pandai namun orang tidak ikut juga
Sifat ego itulah sebab orang renggang dari kita
Rendah hatilah , kita tidak akan rugi

15.5.2004

Menjelang tidur

Tuesday, August 03, 2004

Apalah Artinya


Apalah artinya manusia kalau dia tidak beragama. Hidup seperti hewan. Hanya makan, minum dan membiak. Tidak ada sistem hidup. Hidup semata-mata karena nafsu dan hendak bersenang-senang serta tidak herhenti-henti membuat kerusakan di muka bumi. Beraja di mata dan bersultan di hati. Menjadi penghalang kepada kebaikan dan kebenaran. Menganggap dunia ini sebagai syurga dan yakin bila mati nanti, akan rapuh dan hancur seperti kayu mati. Habis riwayat, tidak ada cerita apa apa lagi.

Apalah artinya agama kalau bukan agama fitrah. Kalau bukan agama yang membawa hak, kebenaran, keselamatan dan kasih sayang. Kalau bukanlah agama yang diredhai oleh Tuhan. Kalau bukan agama Islam.

Apalah artinya beragama Islam kalau tidak ada hidayah. Tanpa hidayah kita tidak akan serius dalarn beragama. Tidak serius dengan Tuhan. Hanya Islam ikut ikutan, Islam keturunan, Islam taqlid, Islam nenek moyang.

Apalah artinya hidayah kalau tidak mempunyai ilmu. Tidak kenal Tuhan. Tidak tahu halal dan haram. Tidak kenal penyakit-penyakit hati. Tidak ada ilmu artinya tidak tahu cara bertindak. Tidak tahu cara beragama. Tidak tahu bersyariat. Menjadi kaku dan beku. Ada agama tapi tidak mampu berbuat apa-apa.

Apalah artinya ilmu kalau tidak difahami. Ilmu hanya di akal, tidak dihati.

Apalah artinya faham kalau ilmu tidak diyakini. Ilmu itu tidak akan mencengkeram hati. Tidak akan mendarah mendaging.

Apalah artinya yakin kalau ilmu tidak diamalkan. Ilmu hanya tinggal ilmu. Samalah hakikatnya dengan orang yang tidak punyai ilmu. Orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmu adalah seperti pohon yang tidak berbuah. Tidak menghasilkan apa-apa.

Apalah artinya amalan kalau tidak ada mujahadah. Tidak dapat melawan tarikan dunia dan tipuan syaitan. Tidak dapat melawan kehendak nafsu. Tanpa Mujahadah, sampai kapan pun hati tidak akan menjadi baik dan nafsu tidak akan terdidik.

Apalah artinya mujahadah kalau tidak istiqomah. Sebentar dibuat sebentar ditinggal. Bila suka, dibuat, bila tak suka, ditinggal. Amalan bermusim-­musim. Istiqomah Itu ialah karamah. Kalau amalan sudah istiqomah, barulah akan timbul berbagai kebaikan dan keajaiban dari amalan dan ibadah. Baru akan datang kasih sayang Tuhan. Yang penting bukan banyak tetapi istiqomah. Kalau istiqomah, air yang menetes pun dapat melekukkan batu. Istiqomah adalah tanda ikhlas.

Apalah artinya istiqomah kalau amalan itu tidak ada batinnya, tidak dihayati dau tidak dijiwai. Tidak ada roh. Tanpa membawa hati. Tanpa rasa. Tuhan tidak ada dalam ibadah. Ibarat buah, hanya ada kulit, tidak ada isinya. Tidak ada indahnya. Tidak ada manisnya. Hanya jasad yang terlibat. Hanya jasad yang taat. Hanya jasad yang beribadat. Walhal Tuhan tidak memandang pada jasad. Tuhan melihat pada hati. Selagi hati tidak ada dalam ibadah, selagi itulah kita belum benar-benar beribadah. Yang menyembah dan mengabdi diri pada Tuhan itu ialah hati atau roh. Jasad hanyalah pengiring. Betapa terkelirunya kita meninggalkan pengiring menyembah Tuhan dan kita pergi entah ke mana. Pengiring tidak tahu apa-apa. Pengiring tidak faham apa-apa.

Hanya apabila roh sudah beperanan, apabila roh dan hati sudah kenal, cinta, takut dengan Tuhan dan apabila roh sudah terlibat dalam pengabdian kepada Tuhan, barulah akan terbina insan. Barulah akan terasa didikan dan tarbiah dari Tuhan. Barulah akan timbul hasil dan buah ibadah iaitu akhlak yang luhur. Akhlak dengan Tuhan, akhlak sesama manusia dan akhlak terhadap sekalian makhluk Tuhan.

Sebahagian akhlak ialah ulfah, iaitu kasih sayang. Manusia tidak akan mampu berkasih sayang selagi manusia belum merasakan Cinta kepada Tuhan.

Tidakkah dapat kita rasakan bahwa seluruh alam ini berputar hanya karena kasih sayang Tuhan. Tuhan tidak terpaksa. Tuhan tidak mengambil untung. Tuhan tidak memiliki kepentingan apa pun. Malahan Tuhan tidak perlu kepada kita dan kepada seluruh alam ini. Namun Tuhan tetap mencurahkan kepada kita segala rahmat dan nikmatnya tanpa henti-henti. Apakah motifnya kalau tidak semata-mata karena cinta dan kasih sayang­Nya kepada kita.

Bila sudah dihasilkan akhlak dan ulfah (kasih sayang), barulah segala-galanya akan mempunyai arti. Beragama mempunyai arti. Hidayah mempunyai arti. Ilmu mempunyai arti. Kefahaman mempunyai arti. Keyakinan mempunyai arti. Amalan Mempunyai arti. Mujahadah mempunyai arti dan istiqomah pun mempunyai arti. Malah bila telah wujud akhlak dan kasih sayang, barulah seluruh kehidupan ini mempunyai arti.